Diberdayakan oleh Blogger.

Kamis, 09 Februari 2012

kentang ungu-sciencedaily.com
Dua porsi kecil kentang ungu (Purple Majesty) sehari dapat menurunkan tekanan darah sekitar 4% tanpa menyebabkan kenaikan berat badan. Para peneliti yang menulis riset dalam Journal of Agricultural and Food Chemistry ACS, menyatakan bahwa meskipun efek yang timbul terlihat kecil, tetapi efek tersebut cukup potensial di dalam mengurangi berbagai macam penyebab sakit jantung.

Joe Vinson dkk menyimpulkan bahwa masyarakat USA mengonsumsi kentang lebih banyak dari jenis sayuran yang lainnya. Kentang ungu yang banyak terdapat di pasaran USA memiliki banyak kandungan senyawa antioksidan. Di Korea, kentang ungu dikenal sebagai obat penurun berat badan. Tim Joe Vinson menginvestigasi efek dari mengonsumsi 6-8 potongan kecil kentang ungu yang dimasak menggunakan microwave sebanyak dua kali sehari pada 18 orang relawan yang kebanyakan dari mereka mengalami obesitas dan tekanan darah tinggi. Para relawan dibagi menjadi dua kelompok, yang mengonsumsi kentang dan yang tidak mengonsumsi kentang. Semua relawan melakukannya dalam waktu empat minggu, kemudian perlakuan ditukar selama empat minggu berikutnya (yang mengonsumsi kentang sebelumnya, empat minggu berikutnya menjadi tidak mengonsumsi kentang, dan sebaliknya). Selama penelitian, tekanan darah sistolik dan diastolik diukur, begitu juga berat badan dan indikator kesehatan lainnya.

Minggu, 05 Februari 2012


Baru saja pagi ini saya bercerita dengan Ibu lewat telepon. Beliau menceritakan sedikit kisah menyedihkan. Begini ceritanya,,

Di tempat tinggalku ada seorang Bapak yang kesehariannya berjualan roti keliling menggunakan gerobak beroda tiga yang dikayuh seperti becak, bel-nya berirama khas iklan sebuah perusahaan roti terkemuka di Indonesia. Beliau mempunyai dua orang anak laki-laki, yang pertama masih SMP, dan yang kedua masih SD. Saya mengenal mereka sejak mereka masih kecil. Dulu, mereka sekeluarga tidak tinggal di desa tempat tinggalku, tetapi jauh di daerah Magelang sana. Sang Bapak memulai usahanya dari berjualan kupat tahu, atau ada yang menyebutnya ketoprak. Dibantu istrinya yang menyiapkan bahan-bahan segala rupa, sang Bapak berangkat dari pagi sampai terkadang malam. Karena saya pulang kampung tidak pernah lama-lama, hanya sekilas dari kesehariannya yang saya ketahui.

Sabtu, 04 Februari 2012

Waktu hendak berangkat sholat jumat kemarin, saya lewat jalan yang biasa saya lewati menuju masjid kampus. Suasana agak mendung siang itu. Dalam perjalanan, saya melihat tiga orang anak kecil yang masing-masing memanggul karung. Entah apa isinya, tetapi saya menduga semacam barang-barang bekas seperti kertas dan lainnya. Sembari mengobrol, mereka berjalan dengan langkah kecil mereka yang tidak bisa mendahului langkah besar dua orang mahasiswa di depannya. Seorang bapak juga berjalan di track yang sama saat itu. Meski langkahnya besar, bapak itu tetap berada di belakang ketiga anak tersebut, seperti tidak ingin mendahului mereka. Sementara itu, saya sibuk mengambil gambar di belakang mereka, sampai akhirnya saya bergegas untuk mempercepat langkah mendahului mereka semua. Saya hanya melirik dan langsung berjalan cepat menuju masjid. Yang teringat di pikiran saya sampai sekarang adalah Jumat saat itu mendung.
...
Benar saja, selesai ibadah Jumat, saya terpaksa berteduh selama beberapa menit di koridor masjid, karena hujan mulai turun cukup deras. Hujan menghapus panas di bumi, sekaligus ingatan saya bahwa saya sudah mengambil beberapa gambar tadi sebelum sampai di masjid.

Kamis, 19 Januari 2012


...
Selama setengah jam Mortenson menunggu dengan gelisah sementara Sakina menyeduh paiyu cha. Haji Ali menyusurkan jemari di sepanjang ayat-ayat Al Quran yang paling dia hargai di atas semua miliknya, membuka-buka halaman secara acak dan dengan nyaris tak bersuara menggumamkan doa-doa bahasa Arab sementara dia menatap tak berkedip ke satu arah.

Ketika mangkuk-mangkuk berisi teh mentega mendidih sudah ada di tangan masing-masing, Haji Ali berkata, “Kalau kau ingin berhasil di Baltistan, kau harus menghargai cara-cara kami,” ujar Haji Ali, meniup-niup mangkuknya. “Kali pertama kau minum teh bersama seorang Balti, kau masih orang asing. Kedua kalinya kau minum teh, kau adalah tamu yang dihormati. Kali ketiga kau berbagi semangkuk teh, kau sudah menjadi keluarga, dan untuk keluarga kami, kami bersedia untuk melakukan apa saja, bahkan untuk mati sekalipun.” Haji Ali meletakkan tangannya dengan sikap hangat di atas tangan Mortenson. “Dokter Greg, kau harus memberi waktu untuk berbagi tiga cangkir teh. Mungkin kami memang tidak berpendidikan. Tetapi kami tidak bodoh. Kami telah hidup dan bertahan di sini untuk waktu yang sangat lama.”

Selasa, 10 Januari 2012


Dear all, kemarin saya baru saja mengikuti seminar seorang mahasiswa S2 di IPB, mas Leo namanya. Mas Leo itu adalah kakak dari teman sekelas saya waktu kuliah dulu. Beliau menyajikan presentasi selama kurang lebih setengah jam kemudian diteruskan tanya jawab setengah jam berikutnya. Saya agak canggung duduk bersama mahasiswa S2, tapi ‘masa bodoh amat dah’ pikir saya. Barangkali bisa jadi motivasi buat lanjut studi. Aamiinn..

Niat untuk mencari ilmu memang bisa dari mana saja, apalagi kalau masih di lingkup kampus, kita bisa datang ke seminar-seminar, kuliah umum, workshop, pelatihan, dan lainnya. Seperti kemarin, saya baru mendapatkan gambaran ilmu baru tentang komunikasi dan partisipasi dalam pemberdayaan masyarakat.