Diberdayakan oleh Blogger.

Senin, 08 Maret 2010

Kamis, 25 Februari 2010

Rakan Selawat (Seal Of The Prophet)
Artist: Raihan
Song Category: Nasyid
He was a guide for all people
And the mercy to the universe
Was a guide for all people
God's peace and blessings on him

He was a seal of the prophet
The last breaking the house of prophethood
He was the last of the prophet
God's peace and blessings on him

He was the patron of the poor
Always helping widows and orphans
A great patron of the poor
God's peace and blessings on him

He was a striver against evil
And he fought and he won
To give right to all people
God's peace and blessings on him

He was a stranger to this world
For his aim was the hereafter
He kept little for this world
God's peace and blessings on him

Sabtu, 20 Februari 2010

http://www.dakwatuna.com

Kami Adalah Dai

Oleh: Sofyan Siroj Aw, Lc, MM


dakwatuna.com – Nahnu Du’aatun Qabla Kulli Syai’in. “Kami adalah dai
sebelum jadi apapun”.

Suatu gambaran pribadi yang unik dengan penataan resiko terencana
untuk meraih masa depan bersama Allah dan Rasul-Nya. Inilah kafilah
panjang, pembawa risalah kebenaran yang tak putus sampai ke suatu
terminal akhir kebahagiaan surga penuh ridha Allah swt.

Setiap muslim adalah dai. Kalau bukan dai kepada Allah, berarti ia
adalah dai kepada selain Allah, tidak ada pilihan ketiganya. sebab
dalam hidup ini, kalau bukan Islam berarti hawa nafsu. Dan hidup di
dunia adalah jenak-jenak dari bendul waktu yang tersedia untuk memilih
secara merdeka, kemudian untuk dipertanggungjawabkan di hadapan Rabbul
insan kelak. Bagi muslim, dakwah merupakan darah bagi tubuhnya, ia
tidak bisa hidup tanpanya. Aduhai, betapa agungnya agama Islam jika
diemban oleh rijal (orang mulia).

Dakwah merupakan aktivitas yang begitu dekat dengan aktivitas kaum
muslimin. Begitu dekatnya sehingga hampir seluruh lapisan terlibat di
dalamnya.Sayang keterlibatan tersebut tidak dibekali ”Fiqh Dakwah”
sehingga kerusakan yang ditimbulkan jauh lebih besar daripada kebaikan
yang diperbuat.

Disini menjadi jelas akan pentingnya kebutuhan terhadap fiqh dakwah,
sebagaimana digambarkan para ulama, bahwa ”kebutuhan manusia akan ilmu
lebih sangat daripada kebutuhan terhadap makan dan minum”. Sehinga
penting bagi kaum muslimin yang telah dan hendak terjun dalam kancah
dakwah untuk membekali diri dengan pemahaman yang utuh terhadap Islam
dan dakwah Islam. Karena orang yang piawai dalam menyampaikan namun
tidak memiliki pemahaman yang benar terhadap Islam ”sama bahayanya”
dengan orang yang memiliki pemahaman yang benar akan tetapi bodoh di
dalam menyampaikan, mengapa?

Pertama; ia akan menyesatkan kaum muslimin dengan kepiawaiannya
(logika kosongnya). Kedua; Hal itu akan menjadi ”dalil” bagi
orang-orang kafir dalam kekafirannya (keungulan bungkusannya).

Adalah fiqh dakwah merupakan sarana untuk menjembatani lahirnya
pemahaman yang shahih terhadap Islam didukung kemampuan yang baik di
dalam menyampaikan. Sehingga dengan aktivitas dakwah ini ummat dapat
menyaksikan ”Islam” dalam diri, keluarga dan aktivitas para dai yang
melakukan perbaikan ummat secara integral, mengeluarkan manusia dari
pekat jahiliyah menuju cahaya Islam.

Bagi mereka yang yang berjalan diatas rel kafilah dakwah menuju cahaya
dan kebahagiaan dunia dan akherat, dapat melihat prinsip-prinsip
dakwah dan kaidah- kaidahnya, agar menjadi hujjah atau pegangan bagi
manusia dan menjadi alasan di hadapan Allah, Ustadz Jum’ah Amin Abdul
Aziz memaparkan tentang hal ini, yaitu; ”Fiqh Da’wah: Prinsip dan
kaidah dasar Dakwah”, yang diambil dari usul fiqh sebagai bekal para
dai tersebut adalah sebagai berikut:

1. Qudwah (teladan) sebelum dakwah

2. Menjalin keakraban sebelum pengajaran

3. Mengenalkan Islam sebelum memberi tugas

4. Bertahap dalam pembebanan tugas

5. Mempermudah, bukan mempersulit

6. Menyampaikan yang ushul (dasar) sebelum yang furu’ (cabang)

7. Memberi kabar gembira sebelum ancaman

8. Memahaman, bukan mendikte

9. Mendidik bukan menelanjangi

10. Menjadi murid seorang imam, bukan muridnya buku.

Harapan, kiranya Allah swt senantiasa mencurahkan taufiq dan
petunjuk-Nya kepada para dai yang ikhlas menyeru manusia ke jalan
Allah, memperbaiki diri, keluarga dan masyarakat serta tempat kerja,
sehingga Allah terlibat dalam urusan dan kebijakan-kebijakan yang akan
ditetapkan untuk orang banyak, demi tegaknya tatanan Islam yang indah
dalam kehidupan dengan bimbingan Alah dan sesuai panduan manhaj
(aturan) dakwah Rasulullah saw. Wallahu ‘alam

http://www.dakwatuna.com/2007/kami-adalah-dai/


------------------------------------

====================================================
Pesantren Daarut Tauhiid - Bandung - Jakarta - Batam
====================================================
Menuju Ahli Dzikir, Ahli Fikir, dan Ahli Ikhtiar
====================================================
website: http://dtjakarta.or.id/

Jumat, 11 Desember 2009

Malam telah tiba. Anak-anak Amalia sibuk dengan Iqra' dan al-Quran. Sebagian sedang menghapal Surah-Surah Pendek. Kebahagiaan terpancar dari wajah mereka. Ditengah anak-anak sedang tadarus, Rizki memberikan pensil untuk Ari. Ari mengucapkan, 'terima kasih Rizki,' Setelah selesai mengaji, saya menjelaskan kepada anak-anak Amalia.

Bila kita menerima pemberian, hadiah, apapun bentuknya berupa materi, ilmu atau jasa kita dianjukan membalas kebaikan tersebut dengan doa yang diajarkan oleh Baginda Nabi Muhamad SAW.

'Barangsiapa yang diberikan satu perbuatan kebaikan kepadanya lalu dia membalasnya dengan mengatakan : jazaakallahu khair (semoga Alloh membalas kebaikan kepadamu), maka sungguh hal itu telah mencukupi dalam menyatakan rasa syukurnya.' (HR.At-Tirmidzi)

Jadi setiap menerima kebaikan dari orang lain, kita mengucapkan, 'Jazakallah Khair atau Jazakumullah Khair, 'Semoga Alloh membalas kebaikan kepadamu.' Doa ini menyadarkan diri kita agar senantiasa berusaha membalas kebaikan orang lain dengan kebaikan pula. Dengan kita mendoakan agar orang yang memberikan kebaikan itu diberikan balasan kebaikan oleh Alloh SWT dengan balasan berlipat ganda atas semua kebaikan yang dilakukan kepada kita.

Anak-anak Amalia menyimak dengan baik. Egi angkat tangan dan bertanya, 'untuk apa kita mendoakan seperti itu Kak Agus?' Kemudian saya menjawab, 'Dengan kita mendoakan seperti itu agar kita mendidik diri kita untuk selalu memberikan yang lebih baik kepada orang yang berbuat baik kepada kita.'

'Nah, tadi Ari diberi pensil oleh Rizki, sekarang Ari doakan Rizki,' kata saya pada Ari. 'Baik Kak,' jawab Ari penuh semangat. 'Jazakallah Khair, Semoga Alloh memberikan balasan kebaikan kepadamu, Rizki.' tutur Ari kepada Rizki dan Rizki menjawab, Jazakallah Khairan Katsira. 'Semoga Alloh memberikan balasan kebaikan kepadamu yang lebih banyak.. Ari.' Dua sahabat itu tersenyum gembira, anak-anak Amalia riang gembira melihat kejadian itu.

By: agussyafii (milist Daarut Tauhid)

Sabtu, 28 November 2009


Tepat Jumat, 27 November 2009, kami mahasiswa Ilmu dan Teknologi Pangan (ITP) berhasil menyelenggarakan kegiatan kunjungan ke panti asuhan Yayasan Tarbiyatul Yatama, Ciampea. Acara dimulai pukul 09.00 WIB dengan pemotongan seekor domba yang diberi label Saepul* di tanduk kanannya. Pak Ustadz langsung membaca niat dan doa, teman-teman memegang kaki depan dan belakang si domba. Cepat saja, pak ustadz sudah mengucurkan darah domba dengan goloknya yang sudah memakan nyawa beberapa domba dan seekor sapi di pagi itu. Kontan, mahasiswa putri pun meringis-ringis. Darah segar mengalir dari leher menuju lubang kecil yang sengaja digali di bawahnya untuk menampung darah si domba. Seketika darah itu mengental hampir seperti agar-agar merah rasa stroberi, tetapi yang ini lebih pekat. Dengan cekatan, beberapa teman telah berhasil mengabadikan momen berharga ini. Ya, Qurban.

Hari ini kami melaksanakan amanat teman-teman ITP yang telah bersedia menyisihkan sebagian rizkinya untuk bersedekah di hari yang akbar ini. Hingga beberapa bulan setelah berhasil menghimpun dana, teman-teman mewujudkan sedekah itu dalam bentuk seekor domba, alat tulis, dan rangkaian kegiatan seperti games, dll. Bagi adik-adik yatim piatu di yayasan tersebut, kedatangan kami mungkin sangat memberi arti, baik secara mental atau material. Adalah Pak Sholeh yang mengurus yayasan ini, meneruskan jejak orang tua beliau, sang penggagas pendirian yayasan, untuk memulai sebuah 'bisnis' yang mulia ini, berbisnis dengan Allah. Kami banyak bertukar pikiran dengan pak Sholeh tentang 'bisnis' mulia ini, bagaimana beliau mengaitkan ini dengan implementasi shalat lima waktu. Kami tertegun, sedikit haru.

Sementara yang lain menyiapkan sate untuk adik-adik, mahasiswa putri sigap mengambil 'lunch' dengan format itp yang sudah biasa kami lakukan. Anda tahu? Ya, nasi putih yang dibikin memanjang, dialasi daun pisang, ditaburi urap di atasnya, diplotkan tempe goreng kira-kira ukuran 5x2x2 cm, dan tidak lupa sambal merahnya. Satu hal yang spesial adalah, sate kambing yang kami potong dagingnya sendiri, kami tusuk sendiri, kami bakar sendiri. Tawa canda menghiasi persiapan 'lunch' itu, plus bau asap daging kambing mengepul 'membaui' baju kami. Sreng...

Alhasil, semua adik-adik dijajarkan berhadapan, diberi aba-aba untuk siap menerkam apa yang ada di depannya. Mata mereka berbinar seperti menemukan santapan lezat dan spesial di hari yang mulia ini. Sebuah doa sebelum makan terlantun dari seorang adik yang bernama Yogi, adik yang paling kecil dan imut yang baru kelas 2 SD. Dengan fasih, dia memimpin teman-temannya yang lebih besar dan lebih tua darinya. Dia PD saja, tidak ada yang perlu ditakutkan. Good job adik Yogi!

... ...

Luar biasa, kakak-kakak mahasiswa ikut bergabung di sela adik-adik yang sedang menikmati makanan mereka. Kami sadar, itu bukan hak kami, tetapi demi menghargai permintaan pengurus untuk 'berbagi bersama' kami ikut nimbrung sewajarnya. Ingat PHA? Benzopyrene? itu semua ada! Nyata! tetapi kebersamaan itu sungguh larut di suasana saat itu, seolah tidak peduli, seorang sahabat kami malah mencari-cari yang daging yang gosong-gosong. Entah, materi kuliah tentang itu mungkin sedang dilupakan. Sampai beberapa menit setelah 'penyerbuan' itu, adik-adik sudah menyerah dan pergi cepat untuk mencuci tangan. Tinggal para mahasiswa yang siap menerjang sisa nasi, urap, tempe, dan sambal.

Selesai membersihkan semua itu, games setting segera dilakukan. Games bos berkata, menghafal nama, dan kapal karam kami rangkum dalam suasana menjelang berakhirnya kegiatan. Tawa canda mereka yang renyah benar-benar menghibur kami. Keluguan mereka mengalir lewat jawaban-jawaban yang dilontarkan. Sikap pemalu mereka nampak jelas dari tingkah-tingkah lucu saat itu. Mereka adalah anak-anak yang sudah tidak lengkap orang tuanya, dan berasal dari beberapa penjuru Kota dan Kabupaten Bogor. Semua berkumpul dalam satu gedung asrama yang dibagi dua putri dan putra. Mulai dari yang paling kecil kelas dua SD hingga yang paling besar kelas 3 MTs, semua berbaur layaknya kakak dan adik sendiri. Kami, perwakilan mahasiswa ITP datang menjadi kakak sementara yang ingin berbagi pula dengan mereka.Cita-cita besar mereka disampaikan dengan gamblang, begitu juga kami. Semua seperti mendoakan dan mendukung apa yang dicita-citakan oleh saudaranya. Sang MC juga terampil dalam menggali pikiran mereka dalam sesi ini. Sehingga kami dibikin tertawa riang mendengar jawaban dan melihat tingkah mereka yang lucu dan lugu. Dokter umum, polisi, pemain bola diantaranya merupakan cita-cita luhur mereka.

Hingga kurang lebih pukul 15.10 semua hadiah, doorprize telah dibagikan. Semua amanat teman-teman ITP telah disampaikan. Saatnya berpisah,.. Pak Sholeh selaku ketua yayasan menyampaikan pesan yang begitu menyentuh. Begitu beliau menyampaikan pesan yang bersifat doa, segera adik-adik mengamini, mengharap pengabulan dari Illahi. Tidak lebih dari sepuluh menit beliau menyampaikan pesan, kami merasa ada yang mengiris hati ini. Kehadiran kami mungkin bukan kehadiran pertama dari kalangan mahasiswa. Akan tetapi, kehadiran hati kami, seorang ITP, mungkin merupakan nilai lebihnya. Niat ITP untuk berbagi tunai dibayar pada momen ini. Kami mengharap pertemuan di lain kesempatan. Pak Sholeh dan adik-adik mengharap pertemuan kembali di akhirat nanti. Semua doa-doa beliau dan adik-adik untuk kami, ITP, dan semuanya diiringi dengan kata amin berulang-ulang.

Ya Allah, kami didoakan menjadi seorang pemimpin yang mampu bertanggung jawab untuk semuanya, diri sendiri, orang lain. Rasanya air mata ini ingin menetes tatkala kata-kata itu terlontar dari pak Sholeh.

Acara ditutup dengan pujian kepada Illahi, salam-salaman, dan foto bersama. Jargon mereka ketika ditanya, "Apa Kabar Hari Ini?" Mereka menjawab, "Alhamdulillah, Tubuhku, Hatiku, Pikiranku, Presh-Presh-Presh...Yess!! Seringaian gigi-gigi mungil muncul di ingatan kami, senyum-senyum mungil pasti membuat kami rindu.

Guys, semua pemberian yang telah diberikan butuh keikhlasan, agar senilai dengan hikmah di hari yang akbar ini. Kami, rohis ITP menghaturkan rasa terima kasih tulus ikhlas atas niat dan kebaikan hati teman-teman semuanya dari tiap angkatan. Semoga kegiatan seperti ini bisa berlanjut. Kebersamaan itu bisa dibangun di luar kampus,,

Insya Allah bermanfaat, Selamat Hari Raya Iedul Adha 1430 H.

Assalamu'alaikum,